KEBENARAN NON ILMIAH
KEBENARAN NON ILMIAH
A. Pengertian teori kebenaran ilmiah
Kebenaran non ilmiah memiliki
pengertian kebenaran yang diperoleh bukan berdasarakan penalaran logika
tetapi diperoleh dari faktor-faktor non
ilmiah. Pada hakikatnya, sudut pandang kebenaran ada tiga yaitu: kebenaran
ilmiah, kebenaran ilmiah, kebenaran filsafat. Biasanya kebenaran ilmiah lebih
sahih, logis dan terbukti kebenarannya, namun,bukan berarti bahwa kebenaran non
ilmiah dan filsafat selalu salah atas suatu kebenaran. Malah bisa saja kebenaran
non ilmiah terbukti lebih benar dari kebenaran ilmiah yang disusun secara
logis.
B. Teori dalam kebenaran non ilmiah
1. Wahyu
Arti wahyu secara umum adalah bisikan,
isyarat atau petunjuk, ilham, perintah, perundingan rahasia. Dalam syara “
wahyu adalah pengetahuan yang diperoleh
nabi atau rosul, yang berasal dari
Allah dengan perantara atau tidak
melalui perantara (malaikat, mimpi). Manusia tidak akan mengetahui hakikat
wahyu secara pasti, hanya Allah yang mengetahui hakikatnya. Wahyu adalah
pengetahun yang disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat perantara para nabi. Para nabi memperoleh
pengetahuan dari Allah tanpa upaya, tanpa memerlukan waktu untuk memperolehnya.
Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semseta.Tuhan mensucikan jiwa
mereka dan diterangkan-Nya pula jiwa mereka untuk memperoleh kebenaran dengan
jalan wahyu.
Wahyu Allah (agama) berisikan pengetahuan,
baik mengenai kehidupan sesorang yang terjangkau oleh pengalaman, maupun yang
mencakup masalah transedental, seperti latar belakang dan tujuan penciptaan
manusia, dunia, dan segenap isinya serta kehidupan di akhirat nanti.
Kebenaran yang didasarkan kepada wahyu
merupakan kebenaran mutlak, jika wahyu datanya dari Allah melalui Rasul dan
Nabi.Kebenaran yang diterima sebagai wahyu bukanlah disebabkan oleh hasil usaha
penalaran manusia secara aktif. Wahyu diturunkan Allah kepada Rasul dan Nabi.
Tetapi kebenaran yang dibawakan melalui wahyu merupakan kebenaran yang asasi.
2. Mitos / Keyakinan
Mitos itu diturunkan secara subyektif,
dalam arti kebenarannya hanya berlaku dimana berlaku dalam masyarakatnya, dan
tidak ada kaitan antara pengalaman dan penuturan. Mitos berarti menghindar
realitas, bukan menghadapi realitas. Seperti ruwatan, patung, sesaji yang
dianggap symbol yang dapat menghindarkan malapetaka. Mitos biasanya efektif
sebagai alat komunikasi massa. Mitos akan hidup tatkala rakyat tertekan dan
penuh harapan. Mitos dapat juga mendorong per buatan. Misal mitos tentang ratu
kidul, masyarakat antusias datang kepantai seklatan melakukan ritual dan sesaji
berharap agar hidupnya selamat, aman dan tentram.
3. Mistik / Spiritual
Mistik
atau disebut juga dengan spiritual adalah teori yang masuk dalam
supra-rasional, kadang memiliki bukti empiris. Mistis adalah pengetahuan yang tidak rasional, yaitu pengetahuan ajaran
atau keyakinan tentang tuhan yang diperoleh melalui latihn-latihan meditasi atau latihan spiritual, bebas dari
ketergantungan indera atau rasio. Dalam islam yang termasuk pengetahuan mistis ialah pengetahuan yang
supra raional tetapi kadang-kadang
mempunyai bukti empiris.
Spiritualisme adalah ajaran yang menyatakan
bahwa kenyataan yang terdalam adalah roh (Pneuma, Nus, Reason, logos) yaitu roh
yang mengisi dan mendasari seluruh alam. Spiriualisme dalam arti ini
dilawankan dengan materialisme. Spiritualisme kadang-kadang dikenakan pada
pandangan idealistik yang menyatakan adanya roh mutlak.Dunia indera dalam
pengertian ini dipandang sebagai dunia idea. Terdapat dua aliran yaitu
a. Cara kerja Mistis-Magis-Putih
Para ahli
hikmah menyadari bahwa kekuatan Allah baik yang dalam diri-Nya atau yan ada dalam firmannya dapat digunakan
oleh manusia. Ayat ayat Al Quran atau kitab langit lainnya yang sering digunakan sebagai perantara untuk menghubungkan manusia dengan tuhannya , bahkan asma-asam
Allah sering digunakan dalam meminta sesuatu. Jika seseorang dapat atau
sannggup mempraktikan wirid atau doa sesuai dengan rumusan maka kekuatan
ilahiyah akan dapat dimanfatkan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki terlebih jika diikuti oeh jiwa
yang bersih.
b. Cara kerja Mistis-Magis-Hitam
Mereka membuat
simbol-simbol atau nama atau artibut-artibut, lalu ia bacakan mantra. Selama
mengucapkan kata–kata buruk itu, ia mengumpulkan ludahnya untuk disemburkan
pada gambar itu. Lalu ia ikatkan buhul pada
simbol menurut sasaran yang telah
disiapkan tadi.
4. Intuisi
Menurut Henry Bergson intuisi adalah hasil dari
evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan insting, tetapi
berbeda dengan kesadaran dan kebebasannya.Pengembangan kemampun ini (intuisi)
memerlukan suatu usaha.Ia juga mengatakan bahwa intuisi adalah suatu
pengetahuan yang langsung, yang mutlak dan bukan pengetahuan yang nisbi.
Menurutnya, intuisi mengatasi sifat lahiriah
pengetahuan simbolis, yang pada dasarnya bersifat analisis, menyeluruh, mutlak,
dan tanpa dibantu oleh penggambaran secara simbolis.Karena itu, intuisi adalah
sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika.Analisis atau pengetahuan
yang diperoleh lewat pelukisan tidak dapat menggantikan hasil pengenalan
intuisi.
Intuisi bersifat personal dan tidak bisa
diramalkan.Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur maka ituisi
tidak bisa diandalkan. Pengetahuan intuitif dapat dipergunakan sebagai
hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menentukan benar tidaknya
pernyataan yang dikemukakannya. Kegiatan intuitif dan analitik bisa bekerja
saling membantu dalam menentukan kebenaran.Bagi Maslow intuisi ini merupakan
pengalaman puncak (peak experience) sedangkan bagi Nietzsche merupakan
inteligensi yang paling tinggi.
Kemampuan menerima pengetahuan secara langsung
itudiperoleh dengan cara latihan, yang dalam Islam disebut Riyadhah. Metode ini
secara umum dipakai dalam Thariqat atas Tasawuf. Konon, kemampuan orang-orang
itu sampai bisa melihat Tuhan, berbincang dengan Tuhan, melihat surga, neraka,
dan alam gaib lainnya. Dari kemampuan ini dapat dipahami bahwa mereka tentu
mempunyai pengetahuan tingkat tinggi yang banyak sekali dan meyakinkan
pengetahuan itu diperoleh bukan lewat indera dan akal, melainkan lewat hati.
Perbedaan
antara intuisi, yang lebih mendasar dan fundamental lebih meraih hakikat
pengetahuan adalah pensucian jiwa dan
takziyah hati, dan bukan dengan analisa
pikiran dan demonstrsi nasional. Para urfa dan sufi beranggapan bahwa
segal pengetahun yang bersumber dari
intusiasi,musyahadah, dan mukasyafah lebih sesuai dengan kebenaran dari pada
ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi rasional dan akal.
C. Pembagian Kebenaran Non-Ilmiah
Upaya untuk menemukan kebenaran yang
Nonimiah dapat terlaksana dengan berbagai cara diantaranya:
a) Kebenaran karena kebetulan
Adalah penemuan berlangsung tanpa disengaja. Dalam
sejarah manusia, penemuan secara kebetulan itu juga berguna walaupun
kejadiannya tidak secara ilmiah,tidak sengaja dan tanpa rencana, penemuan
secara kebetulan ini dapat menjadi perantara kebenaran ilmiah.
b) Kebenaran karena akal sehat (common sense)
Akal sehat adalah serangkaian konsep yang dipercayai
dapat memecahkan masalah secara praktis. Kepercayaan bahwa hukuman fisik
merupakan alat utama untuk pendidikan adalah termasuk kebenaran akal sehat ini.
Penelitian Psikologi kemudian membuktikan hal tersebut tidak benar.
c) Kebenaran agama dan wahyu
Kebenaran ini mutlak dan asasi dari Allah SWT dan
Rasul-Nya. Beberapa hal masih bisa dinalar dengan panca indera manusia, namun
ada juga yang tidak bisa.
d) Kebenaran Intuitif
Kebenaran yang didapat dari luar proses sadar tanpa
menggunakan penalaran dan proses berpikir. Kebenaran intuitif sulit untuk
dipercaya dan tidak bisa dibuktikan hanya sering dimiliki oleh orang yang berpengalaman
lama dan mendarah daging di suatu bidang.
e) Kebenaran karena trial dan error
Kebenaran yang diperoleh karena mengulang-ulang
pekerjaan. Baik metode, teknik, materi, dan parameter-parameter sampai akhirnya
menemukan sesuatu, membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang tinggi.
f) Kebenaran spekulasi
Kebenaran karena adanya pertimbangan meskipun tidak
dipikirkan secara matang, dikerjakan dengan penuh resiko, relatif lebih cepat,
dan biaya lebih rendah dari trial dan error.
Kebenaran karena kewibawaan
g) Kebenaran yang diterima karena pengaruh
kewibawaan seseoran. Seseorang tersebut bisa ilmuan, pakar atau ahli yang
memiliki kompetensi dan otoritas dalam suatu bidang ilm. Kadang kebenaran yang
keluar darinya diterima begitu saja tanpa perlu diuji. Kebenaran ini bisa benar
tapi juga bisa salah karena tanpa prosedur ilmiah.
D. Contoh Kebenaran Non-Ilmiah
a) Mukasyafah
Mukasyafah bermakna terbukanaya tirai, atau peristiwa
ketersingkapan atau keterbukaan tabir penghalang, maksudnya dalah terbukanaya
segala rahasia alam yang tersembunyi.
b) Ilmu Laduni
Ilmu laduni adalah ilmu yang ditemukan dalam jiwa yang
berasal dari Tuhan tanpa melalui perantara.
c) Sihir
Kata sihir dalam bahasa Arab diambil dari kata Sahara,
yaitu waktu malam dan awal terbitnya fajar. Karena pada waktu demikian
bercampur antara gelap dan terang ,sehingga sesuatu menjadi tidak sepenuhnya
jelas. Arti lain dari sihir ialah” segala sesuatu yang halusdan lembut”.
Maksudnya segala hal yang tersembunyi,samar dan tidak terlihat asal usulnya, sehingga menipu pandangan
seakan akan melihat sesutu, padahal sebenarnya sesuatu itu tidak ada.
d) Mistik
Mistik adalah pengetahuan yang tidak rasional, yaitu pengetahuan ajaran
atau keyakinan tentang tuhan yang diperoleh melalui latihn-latihan meditasi atau latihan spiritual, bebas dari
ketergantungan indera atau rasio.

Comments
Post a Comment