SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI BARAT
SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI BARAT
A. Perkembangan Ilmu di Barat
Perkembangan sejarah ilmu pengetahuan menurut amsal bakhtiar yang dibagi menjadi empat periode dijelaskan sebagai berikut:
1. Periode Yunani Kuno Yunani kuno
adalah tempat bersejarah di mana sebuah bangsa memilki peradaban. Oleh
karenanya Yunani kuno sangat identik dengan filsafat yang merupakan induk dari
ilmu pengetahuan. Padahal filsafat dalam pengertian yang sederhana sudah
berkembang jauh sebelum para filosof klasik Yunani menekuni dan
mengembangkannya. Pada zaman ini banyak
bermunculan ilmuwan yang terkemuka. Di antaranya adalah:
a. Thales (624-545 SM). Kurang lebih enam ratus
tahun sebelum Nabi Isa (Yesus) terlahir, muncul sosok pertama dari tridente
Miletus yaitu Thales yang menggebrak cara berfikir mitologis masyarakat Yunani
dalam menjelaskan segala sesuatu. Sebagai Saudagar-Filosof, Thales amat gemar
melakukan rihlah. Ia bahkan pernah melakukan lawatan ke Mesir. Thales adalah
filsuf pertama sebelum masa Socrates. Menurutnya zat utama yang menjadi dasar
segala materi adalah air. Pada masanya, ia menjadi filsuf yang mempertanyakan isi
dasar alam.
b. Pythagoras (580 SM–500 SM) Pythagoras lahir di
Samos (daerah Ioni), tetapi kemudian berada di Kroton (Italia Selatan). Ia
adalah seorang matematikawan dan filsuf Yunani yang paling dikenal melalui
teoremanya. Dikenal sebagai Bapak Bilangan, dan salah satu peninggalan
Phytagoras yang terkenal adalah teorema Pythagoras, yang menyatakan bahwa
kuadrat hipotenusa dari suatusegitiga siku-siku adalah sama dengan jumlah
kuadrat dari kaki-kakinya (sisi-sisi siku-sikunya). Walaupun fakta di dalam teorema
ini telah banyak diketahui sebelum lahirnya Pythagoras, namun teorema ini
dikreditkan kepada Pythagoras karena ia yang pertama kali membuktikan
pengamatan ini secara matematis. Selain itu, Pythagoras berhasil membuat
lembaga pendidikan yang disebut Pythagoras Society. Selain itu, dalam ilmu ukur
dan aritmatika ia berhasil menyumbang teori tentang bilangan, pembentukan
benda, dan menemukan hubungan antara nada dengan panjang dawai.
c. Socrates
(469 SM-399 SM) Socrates lahir di Athena, dan merupakan generasi pertama dari
tiga ahli filsafat besar dari Yunani, yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles.
Socrates adalah yang mengajar Plato, dan Plato pada gilirannya juga mengajar
Aristoteles. sumbangsih Socrates yang terpenting bagi pemikiran Barat adalah
metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang banyak
diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu, Socrates dikenal
sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga filsafat secara
umum. Periode setelah Socrates ini disebut dengan zaman keemasan kelimuan
bangsa Yunani, karena pada zaman ini kajian-kajian kelimuan yang muncul adalah
perpaduan antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia. Tokoh yang sangat
menonjol adalah Plato (429-347 SM), yang sekaligus murid Socrates.
d. Plato
(427 SM-347 SM) Ia adalah murid Socrates dan guru dari Aristoteles. Karyanya
yang paling terkenal ialah Republik (Politeia) di mana ia menguraikan garis
besar pandangannya pada keadaan ideal. Selain itu, ia juga menulis tentang
Hukum dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama. Sumbangsih Plato
yang terpenting tentu saja adalah ilmunya mengenai ide. Dunia fana ini tiada
lain hanyalah refleksi atau bayangan daripada dunia ideal. Di dunia ideal
semuanya sangat sempurna. Plato, yang hidup di awal abad ke-4 S.M., adalah
seorang filsuf earliest (paling tua) yang tulisan-tulisannya masih menghiasi
dunia akademisi hingga saat ini. Karyanya Timaeus merupakan karya yang sangat
berpengaruh di zaman sebelumnya; dalam karya ini ia membuat garis besar suatu
kosmogoni yang meliputi teori musik yang ditinjau dari sudut perimbangan dan
teori-teori fisika dan fisiologi yang diterima pada saat itu.
e. Aristoteles
(384 SM- 322 SM) Aristoteles adalah seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan
guru dari Alexander yang Agung. Ia memberikan kontribusi di bidang Metafisika,
Fisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, dan Ilmu Alam. Di bidang ilmu alam, ia
merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan
spesies-spesies biologi secara sistematis. Sementara itu, di bidang politik,
Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk
demokrasi dan monarki. Dari kontribusinya, yang paling penting adalah masalah
logika dan Teologi. Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif
(deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar
dari setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam
penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan
berpikir induktif (inductive thinking).
Logika yang digunakan untuk menjelaskan cara menarik kesimpulan yang
dikemukakan oleh Aristoteles didasarkan pada susunan pikir. Masa keemasan
kelimuan bangsa Yunani terjadi pada masa Aristoteles (384-322 SM). Ia berhasil
menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar filsafat yang dipersatukannya
dalam satu sistem: logika, matematika, fisika, dan metafisika. Logika
Aristoteles berdasarkan pada analisis bahasa yang disebut silogisme
(syllogisme).
2. Periode Islam. Gairah intelektualitas di dunia Islam ini berkembang pada saat Eropa dan Barat mengalami titik kegelapan, Sebagaimana dikatakan oleh Josep Schumpeter dalam buku magnum opusnya yang menyatakan adanya great gap dalam sejarah pemikiran ekonomi selama 500 tahun, yaitu masa yang dikenal sebagai dark ages. Masa kegelapan Barat itu sebenarnya merupakan masa kegemilangan umat Islam, suatu hal yang berusaha disembunyikan oleb Barat karena pemikiran ekonom Muslim pada masa inilah yang kemudian banyak dicuri oleh para ekonom Barat.18 Pada saat itulah di Timur terutama di wilayah kekuasaan Islam terjadi perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat. Di saat Eropa pada zaman Pertengahan lebih berkutat pada isu-isu keagamaan, maka peradaban dunia Islam melakukan penterjemahan besar-besaran terhadap karya-karya filosof Yunani, dan berbagai temuan di lapangan ilmiah lainnya.
Sekitar abad ke 6-7 Masehi obor
kemajuan ilmu pengetahuan berada di pangkuan perdaban Islam. Dalam lapangan
kedokteran muncul nama-nama terkenal seperti: Al Hawi karya al-Razi (850-923) merupakan sebuah ensiklopedi
mengenai seluruh perkembangan ilmu kedokteran sampai masanya. Rhazas mengarang
suatu Encyclopedia ilmu kedokteran dengan judul Continens, Ibnu Sina (980-1037)
menulis buku-buku kedokteran (al-Qonun) yang menjadi standar dalam ilmu
kedokteran di Eropa. Al-Khawarizmi (Algorismus atau Alghoarismus) menyusun buku
Aljabar pada tahun 825 M, yang menjadi buku standar beberapa abad di Eropa. Ia
juga menulis perhitungan biasa (Arithmetics), yang menjadi pembuka
jalan penggunaan cara desimal di Eropa untuk menggantikan tulisan Romawi. Ibnu
Rushd (1126-1198) seorang filsuf yang menterjemahkan dan mengomentari karyakarya
Aristoteles. Al Idris (1100-1166) telah membuat 70 peta dari daerah yang
dikenal pada masa itu untuk disampaikan kepada Raja Boger II dari kerajaan
Sicilia. Dalam bidang kimia ada Jabir
Ibn Hayyan (Geber) dan al-Biruni
(362-442 H/973-1050 M). Sebagian karya Jabir Ibn Hayyan memaparkan
metode-metode pengolahan berbagai zat kimia maupun metode pemurniannya.
Sebagian besar kata untuk menunjukkan zat dan bejana-bejana kimia yang
belakangan menjadi bahasa orang-orang Eropa berasal dari karya-karyanya.
Sementara itu, al-Biruni
mengukur
sendiri gaya berat khusus dari beberapa zat yang mencapai ketepatan tinggi.
3. Masa renaisans dan Modern. Renaisans adalah periode perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau sesudah abad kegelapan sampai muncul abad modern. Renaisans merupakan era sejarah yang penuh dengan kemajuan dan perubahan yang mengandung arti bagi perkembangan ilmu. Ciri utama renaisans yaitu humanisme, individualisme, sekulerisme, empirisisme, dan rasionalisme. Sains berkembang karena semangat dan hasil empirisisme, sementara Kristen semakin ditinggalkan karena semangat humanisme. Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaisance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin. Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam, tetapi ia telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaisance) pada abad ke-14 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklarung) pada abad ke-18 M.
4. Periode Kontemporer.
Zaman ini bermula dari abad 20 M dan masih berlangsung hingga saat ini. Zaman
ini ditandai dengan adanya teknologiteknologi canggih, dan spesialisasi
ilmu-ilmu yang semakin tajam dan
mendalam. Pada zaman ini bidang fisika menempati kedudukan paling tinggi dan
banyak dibicarakan oleh para filsuf. Sebagian besar aplikasi ilmu dan teknologi
di abad 21 merupakan hasil penemuan mutakhir di abad 20. Pada zaman ini,
ilmuwan yang menonjol dan banyak dibicarakan adalah fisikawan. Bidang fisika
menjadi titik pusat perkembangan ilmu pada masa ini. Fisikawan yang paling
terkenal pada abad ke-20 adalah Albert Einstein. Ia lahir pada tanggal 14 Maret
1879 dan meninggal pada tanggal 18 April 1955 (umur 76 tahun). Alberth Einstein
adalah seorang ilmuwan fisika. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga
banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan
kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk
penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan “pengabdiannya bagi Fisika Teoretis”.
Karyanya yang lain berupa gerak Brownian, efek fotolistrik, dan rumus Einstein
yang paling dikenal adalah E=mc². Menggunakan teori kinetik cairan yang pada
saat itu kontroversial, dia menetapkan bahwa fenomena, yang masih kurang
penjelasan yang memuaskan setelah beberapa dekade setelah ia pertama kali
diamati, memberikan bukti empirik (atas dasar pengamatan dan eksperimen)
kenyataan pada atom. Dan juga meminjamkan keyakinan pada mekanika statistika,
yang pada saat itu juga kontroversial. Pada zaman ini juga melihat integrasi
fisika dan kimia, pada zaman ini disebut dengan “Sains Besar”. Linus Pauling
(1953) mengarang sebuah buku yang berjudul The
Nature of Chemical Bond menggunakan prinsip-prinsip mekanika kuantum.
Kemudian, karya Pauling memuncak dalam pemodelan fisik DNA, “rahasia
kehidupan”.
Pada tahun ini juga James D.
Watson, Francis Crick dan Rosalind Franklin menjelaskan struktur dasar
DNA, bahan genetik untuk mengungkapkan kehidupan dalam segala bentuknya. Hal
ini memicu rekayasa genetika yang dimulai tahun 1990 untuk memetakan seluruh
manusia genom (dalam Human Genome Project) dan telah disebut-sebut sebagai
berpotensi memiliki manfaat medis yang besar. Selain kimia dan fisika, teknologi komunikasi
dan informasi berkembang pesat pada zaman ini. Sebut saja beberapa penemuan
yang dilansir oleh nusantaranews.wordpres.com
sebagai penemuan yang merubah warna dunia,
yaitu: Listrik, Elektronika (transistor dan IC), Robotika (mesin produksi dan
mesin pertanian), TV dan Radio, Teknologi Nuklir, Mesin Transportasi, Komputer,
Internet, Pesawat Terbang, Telepon dan Seluler, Rekayasa Pertanian dan DNA,
Perminyakan, Teknologi Luar Angkasa, AC dan Kulkas, Rekayasa Material,
Teknologi Kesehatan (laser, IR, USG), Fiber Optic, dan Fotografi (kamera,
video). Kini, penemuan terbaru di bidang Teknologi telah muncul kembali. sumber
lain telah memberitakan penemuan “Memristor”. Ini merupakan penemuan Leon Chua,
profesor teknik elektro dan ilmu komputer di University of California Berkeley.
Keberhasilan itu menghidupkan kembali mimpi untuk bisa mengembangkan
sistem-sistem elektronik dengan efisiensi energi yang jauh lebih tinggi
daripada saat ini. Caranya, memori yang bisa mempertahankan informasi bahkan
ketika power-nya mati, sehingga tidak perlu ada jeda waktu untuk komputer untuk
boot up, misalnya, ketika dinyalakan kembali dari kondisi mati. Hal ini
digambarkan seperti menyala-mematikan lampu listrik, ke depan komputer juga
seperti itu (bisa dihidup-matikan dengan sangat mudah dan cepat).
B. Teori-Teori Kebenaran Ilmu
1.
Teori
Korespondensi
Teori korespondensi merupakan teori kebenaran yang didasarkan pada
fakta obyektif sebagai dasar kebenarannya. Teori ini menyatakan bahwa sebuah
pernyataan dianggap benar hanya jika pernyataan tersebut berhubungan dengan
fakta obyektif yang ada. Fakta obyektif adalah segala bentuk fenomena berupa
tampilan visual, gelombang suara, rasa maupun tekstur, yang bisa ditangkap
melalui panca indera. Secara sederhana, suatu pernyataan dianggap benar jika
ada faktanya. Jika tidak, maka pernyataan tersebut bukan kebenaran. Oleh karena
sifatnya yang mengandalkan pengalaman inderawi dalam menangkap fakta, maka
teori ini menjadi teori yang digunakan oleh para empirisis.
Contohnya, sebuah pernyataan “di
luar terjadi hujan” dianggap benar jika terdapat fakta
obyektif di luar sana benar-benar terjadi hujan. Peristiwa turunnya air dari
angkasa harus bisa ditangkap oleh panca indera. Jika tidak bisa ditangkap oleh
panca indera, maka peristiwa hujan itu bukan merupakan fakta, melainkan hanya
peristwa delusif yang hanya berada dalam imajinasi si pemberi pernyataan.
Menurut prinsip verifikasi, semakin banyak pihak yang mengiyakan
dan menyaksikan bukti faktual yang berhubungan dengan sebuah pernyataan, maka
kadar kebenaran tersebut akan semakin tinggi. Begitu juga sebaliknya. Prinsip
verifikasi ini berguna untuk mengatasi kesalahan yang mungkin timbul pada
setiap individu dalam menangkap kesan-kesan inderawi. Gula yang sejatinya manis
akan terasa pahit di indera pengecap orang yang sedang sakit atau memiliki
gangguan kesehatan. Oleh karena itu, pengujian terhadap fakta harus dilakukan
secara terukur, berulangulang dan melibatkan sebanyak mungkin responden.
Prinsip verifikasi ini banyak digunakan dalam metode saintifik untuk mengatasi
kelemahan inderawi dalam menangkap fenomena faktual.
2.
Teori Koherensi
Pembuktian
secara berulang-ulang pada teori korespondensi pada akhirnya akan melahirkan
sebuah aksioma atau postulat yang pada umumnya berwujud sebagai kebenaran umum
(general truth).
Matahari terbit dari arah timur. Pernyataan tersebut merupakan sebuah kebenaran
umum karena sudah diyakini benar. Kita tidak perlu menunggu hingga esok pagi
untuk membuktikan secara faktual bahwa matahari benar-benar terbit dari ufuk
timur. Aksioma atau postulat adalah sebuah pernyataan yang dianggap sudah
terbukti benar dan tidak perlu dibuktikan lagi. Karena sifat itulah ia
dijadikan sebagai dasar dalam disiplin ilmu matematika dan bisa digunakan untuk
membuktikan apakah pernyataan lain benar atau tidak.
Menurut teori
koherensi, sebuah pernyataan bisa dianggap benar hanya jika pernyataan itu
koheren atau tidak bertentangan dengan pernyataan sebelumnya yang sudah
terbukti benar. Untuk dianggap benar, teori ini mensyaratkan adanya konsistensi
atau tidak adanya pertentangan (kontradiksi) antara suatu pernyataan dengan
aksioma. Karena itulah teori koherensi dikenal juga sebagai teori
konsistensi.
Misal, dalam
disiplin ilmu matematika terdapat aksioma bahwa jumlah sudut semua jenis bangun
ruang segitiga berjumlah 180°. Jika ada satu pernyataan bahwa terdapat satu
bentuk segi tiga yang jumlah sudutnya 210°, maka tanpa harus menyaksikan bukti
faktual segitiga tersebut kita bisa menyatakan bahwa pernyataan orang tersebut
tidak benar karena ia bertentangan dengan aksioma. Pernyataan orang tersebut
memiliki kontradiksi dengan aksioma yang sudah ada.
Perbedaan teori
ini dengan teori korespondensi terletak pada dasar pembuktian kebenaran. Pada
teori korespondensi dasar kebenarannya pada ada tidaknya hubungan antara
pernyataan dengan fakta yang ada, sedangkan pada teori koherensi pembuktiannya
terletak pada ada tidaknya konsistensi antara pernyataan dengan postulat.
Contoh lainnya, seseorang memberi pernyataan bahwa di dalam kolam alun-alun
kota terdapat seekor ikan hiu yang masih hidup. Menurut teori korespondensi,
untuk menentukan pernyataan tersebut benar atau tidak, kita harus menunggu
fakta apakah di dalam kolam tersebut terdapat seekor ikan hiu yang masih hidup
atau tidak. Sementara menurut teori koherensi, tanpa menunggu fakta, kita bisa
meentukan pernyataan orang tersebut tidak benar karena bertentangan dengan
aksioma yang sudah ada sebelumnya bahwa ikan hiu adalah jenis ikan air asin
(laut). Tidak logis jika ikan air asin bisa hidup dalam air kolam alun-alun
kota yang merupakan kolam air tawar.
3.
Teori Pragmatis
Teori pragmatis
berbeda dengan dua teori sebelumnya dalam menentukan dasar kebenaran. Jika pada
korespondensi dasar kebenarannya adalah fakta obyektif dan pada teori koherensi
adalah konsistensi logis, maka teori pragmatis meletakkan dasar kebenarannya
pada manfaat praktis dalam memecahkan persoalan kehidupan. Tidak hanya berlaku
pada dunia empiris, teori pragmatisme lebih lanjut juga bisa diterapkan
berkaitan dengan obyek pengetahuan metafisik. Teori ini muncul sebagai kritik
terhadap kaum positivis yang menganggap pernyataan metafisik sebagai pernyataan
yang tidak bermakna (meaningless) karena ia tidak memiliki dasar faktual di dunia empiris.
Menurut kaum
pragmatis, pernyataan metafisik bisa menjadi pernyataan yang benar selama ia
memiliki manfaat dalam kehidupan. Neraka ada bagi manusia yang berperilaku
jahat. Terlepas dari ketiadaan bukti empiris tentang neraka, pernyataan itu
bisa dianggap sebagai pernyataan yang benar karena memiliki manfaat dalam
menurunkan angka kejahatan.
Terkait dengan
teori kebenaran, Charles Pierce, salah satu tokoh pragmatisme menjelaskan bahwa
kriteria berlaku dan memusaskan sebagai dasar kebenaran dalam pragmatisme
digambarkan secara beragam dalam berbagai sudut pandang. Beragamnya sudut
pandang dalam menentukan hasil yang memuaskan akan berujung pada beragamnya
standar kebenaran. Kebenaran menurut saya belum tentu benar menurut orang lain
karena apa yang memuaskan bagi saya belum tentu memuaskan bagi orang lain.
Kondisi ini pada akhirnya akan membuat teori pragmatisme rentan terjebak dalam
relativisme. Inilah salah satu dari beberapa kritik yang diarahkan pada teori pragmatism.
4.
Teori
Performatif
Teori kebenaran
performatif muncul dari konsepsi J. L. Austin yang membedakan antara ujaran
konstatif dan ujaran performatif. Menurut tokoh filsafat analitika Bahasa dari
Inggris ini, pengujian kebenaran (truth-evaluable) secara faktual seperti yang dapat diterapkan dalam teori
korespondensi hanya bisa diterapkan pada ujaran konstatif. Ucapan konstatif
adalah ucapan yang yang mengandung sesuatu yang konstatif dalam ujaran itu
sehingga ia memiliki konsekuensi untuk dibuktikan kebenarannya.
Sementara itu,
terdapat beberapa hal yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya karena
keterbatasan masyarakat untuk mengakses fakta yang terjadi. Selain keterbatasan
akses kepada fakta, ketidakbisaan sebuah ujaran untuk dibuktikan juga bisa
disebabkan karena sebuah ujaran berkaitan dengn kondisi atau aktivitas mental
seseorang. Ketika seseorang berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama
kelak di kemudian hari, kita tidak bisa membuktikan apakah ia berjanji
sungguh-sungguh seperti yang ia ucapkan atau tidak. Kesungguhan dalam janji
adalah aktivitas mental dan oleh karena itu tidak bisa dibuktikan.
Untuk hal-hal
ini, Austin mengenalkan jenis ujaran performative. Ujaran-ujaran ini tidak
dapat dibuktikan kebenarannya berdasarkan fakta obyektif maupun konsistensi
logis yang dikandungnya, melainkan berkaitan dengan layak atau tidaknya ujaran
tersebut dikeluarkan oleh sang penutur. Atas dasar itulah kebenaran performatif
mengandalkan otoritas penutur sebagai dasar kebenarannya. Otoritas ini bisa
dimaknai sebagai adanya wewenang, kepakaran atau kompetensi sang penutur dalam
hal yang diungkapkan dalam ujarannya.
Contoh yang
paling umum dari jenis kebenaran performatif adalah penentuan awal bulan
Ramadan. Awal masuknya bulan Ramadan ditentukan melalui fakta munculnya hilal
(bulan muda) yang merupakan awal pergantian bulan yang sekaligus menjadi
pertanda dimulainya ibadah puasa bagi umat muslim. Kendati kemunculan hilal
merupakan fakta obyektif dijadikan sebagai dasar kebenaran penentuan awal
Ramadan (sebagaimana pembuktian pada teori korespondensi), terdapat
keterbatasan akses bagi orang awam untuk membuktikan melalui pencerapan inderawi.
Jatuhnya awal Ramadan tidak dibuktikan oleh masyarakat dengan menyaksikan
langsung fakta kemunculan hilal, tetapi melalui pernyataan menteri Agama yang
dianggap memiliki otoritas untuk menentukan awal Ramadan.
5.
Teori Konsensus
Teori kebenaran
consensus pada awalnya digagas oleh Thomas Kuhn, seorang ahli sejarah ilmu
pengetahuan. Penulis buku The Structure of Scientific
Revolutions ini menyatakan
bahwa ilmu pengetahuan berkembang melalui beberapa tahapan. Pertama, ilmu
pengetahuan berada pada posisi sebagai normal science ketika ia diterima oleh masyarakat berdasarkan konsepsi kebenaran
ilmiah. Pada perkembangannya, akan muncul beberapa anomali yang membuat
konsepsi kebenaran tersebut dipertanyakan keabsahannya. Selanjutnya akan
terjadi revolusi ilmu pengetahuan yang juga menyebabkan pergeseran paradigma (shifting paradigm)
dalam masyarakat ilmiah. Singkat kata, perkembangan imu pengetahuan ditandai
dengan adanya pergeseran paradigma lama yang digantikan oleh paradigma baru.
Pergeseran tersebut ditentukan oleh penerimaan masyarakat (social acceptance)
terhadap sebuah paradigma dan konsepsi kebenaran ilmiah.
Berdasarkan
konsepsi Kuhn di atas, sebuah teori ilmiah dianggap benar sejauh ia mendapat
dukungan atau terdapat kesepakatan (konsensus) dalam masyarakat ilmiah terhadap
kebenaran teori tersebut. Inilah yang disebut teori kebenaran konsensus. Teori
ini selanjutnya dikembangkan juga oleh Jurgen Habermas melalui konsep
pemikirannya tentang komunikasi rasional. Senada dengan Kuhn, menurut Habermas,
kebenaran sebuah pernyataan ditentukan oleh ada tidaknya kesepakatan di antara
partisipan rasional komunikatif dalam sebuah diskursus.
DAFTAR PUSTAKA
Faradi, A.A. 2019. TEORI-TEORI
KEBENARAN DALAM FILSAFAT Urgensi dan Signifikansinya dalam Upaya Pemberantasan
Hoaks. Jurnal Kontemplasi, Vol 7. No. 1.
Karim, Abdul. 2014. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU
PENGETAHUAN. Jurnal Fikrah, Vol 2. No. 1.

Comments
Post a Comment