KEBENARAN ILMIAH
KEBENARAN
ILMIAH
A.
Pengertian Kebenaran Ilmiah
Kebenaran adalah satu nilai utama didalam
kehidupan manusia. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia.
Artinya sifat manusia atau martabat manusia selalu berusaha memeluk suatu
kebenaran. Berbicara tentang kebenaran ilmiah, tidak bisa dipisahkan dari makna
dan fungsi ilmu itu sendiri, sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh
manusia. Disamping itu, proses untuk mendapatkan haruslah melalui tahap-tahap
metode ilmiah. Tentang kebenaran ini, plato pernah berkata : apakah kebenaran
itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley
menjawab: “kebenaran itu adalah kenyataan” tetapi bukanlah kenyataan itu tidak
selalu yang seharusnya terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk
ketidak benaran atau keburukan. Jadi ada dua pengertian kebenaran, yaitu
kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi disatu pihak, dan kebenaran dalam
arti lawan dari keburukan atau ketidak benaran.
Dalam kamus dijelakan ilmiah berasal dari
kata ilmu artinya pengetahuan. Namun, dalam kajian filsafat
antara ilmu dan pengetahuan dibedakan. Pengetahuan bukan ilmu, tetapi ilmu
merupakan akumulasi pengetahuan. Sedangkan yang dimaksud ilmiah adalah
pengetahuan yang didasarkan atas terpenuhinya syarat-syarat ilmiah, terutama
menyangkut teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti.
Kebenaran ilmiah merupakan kesesuaian antara
pengetahuan dengan objek kesesuian ini didukung dengan syarat-syarat tertentu
yang oleh Jujun S. Sumantri disebut dengan metode-metode, juga didukung dengan
teori yang menunjang dan sesuai dengan bukti. Kebenaran ilmiah divalidasi
dengan bukti-bukti empiris yaitu hasil pengukuran objektif
dilapangan
Kebenaran ilmiah adalah suatu pengetahuan yang jelas dan pasti kebenarannya menurut norma-norma keilmuan. Kebenaran ilmiah cenderung bersifat objektif, didalamnya terkandung sejumlah pengetahuan menurut sudut pandang yang berbeda-beda, tetapi saling bersesuaian. Kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Disamping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap- tahap metode ilmiah.
B.
Teori Kebenaran
Secara tradisional dikenal dua teori kebenaran, yaitu: teori
kebenaran koherensi, dan teori kebenaran korespondensi. Michael Williams
(Muhajir, 1998:13) mengenalkan teori kebenaran, yaitu: kebenaran koherensi,
kebenaran korespondensi, kebenaran performatif, dan kebenaran pragmatik.
1. Teori Kebenaran Koherensi
Koherensi berarti hubungan
yang terjadi karena adanya gagasan (prinsip, relasi, aturan, konsep) yang sama.
Secara singkat paham ini mengatakan bahwa suatu proposisi cenderung benar jika
proposisi tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan proposisi-proposisi
yang benar atau jika makna yang dikandunganya dalam keadaan saling berhubungan
dengan pengalaman kita.
Ciri-ciri teori kebenaran koherensi :
a.
Suatu pernyataan dianggap
benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan
sebelumnya yang dianggap benar.
b.
Berakar pada pola filsafat idealisme yaitu Idealisme Plato yang
mendewakan dunia ide.
c.
Memberikan ukuran kebenaran pernyataan pada adanya hubungan
antara pernyataan itu dengan pernyataan yang lain atau pengalaman sebelumnya
yang diakui kebenarannya. Jika ada hubungan berarti benar, jika tidak berarti
tdak benar.
d.
Kebenaran terletak pada
hubungan antara pernyataan dan pengalaman. Semakin banyak hubungannya, semakin
tinggi derajat kebenaran itu.
Sebagai contoh,
kita beranggapan bahwa setiap tumbuhan pasti akan mati. Jika bunga adalah
tumbuhan, maka pernyataan bahwa bunga akan mati merupakan pernyataan yang
benar. Contoh lainnya bila kita menganggap bahwa “maksiat perbuatan yang
dilarang oleh Allah” adalah suatu pernyataan yang benar. Maka pernyataan bahwa
“mencuri perbuatan maksiat, maka mencuri dilarang oleh Allah” adalah benar
pula, sebab pernyataan kedua konsisten dengan pernyataan yang pertama.
2. 2. Teori Kebenaran Korespondensi
Kebenaran dalam paham ini terletak
pada kesesuaian hubungan antara pernyataan dengan obyek yang bersifat faktual.
Paham ini banyak dianut oleh penganut realisme dan metarialisme dan berkembang
pada abad ke-19 di bawah pengaruh Heggel, dan sangat menghargai pengamatan
empirik serta memuji cara kerja aposteriori.
Kebenaran
koresmondensi merupakan teori yang berpandangan bahwa sesuatu dikatakan benar
apabila :
a.
Kesesuaian
antara pernyataan tentang fakta dengan fakta itu sendiri. Kebenaran atau suatu
keadaan dikatakan benar jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh
suatu pendapat dengan fakta. Teori ini sering diasosiasikan dengan teori-teori
empiris pengetahuan.
b.
Ujian kebenaran
yang didasarkan atas teori korespondensi paling diterima secara luas oleh
kelompok realis.
c.
Kebenaran
adalah kesetiaan kepada realita obyektif.
Jadi
secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu
pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu
berkorespondensi(berhubungan) dan sesuai dengan obyek yang dituju oleh
pernyataan tersebut. Misalnya Banjarmasin adalah Ibu kota Provinsi Kalimantan
Selatan (benar) – pernyataan dan kenyataan sesuai. Kalau Pontianak adalah ibu
kota provinsi Kalimantan Selatan (salah) – pernyataan tidak sesuai dengan
kenyataan, karena Pontianak bukan ibu kota provinsi Kalimantan Selatan. Contoh
lainnya jika seseorang mengatakan “Matahari terbit dari Timur” maka pernyataan
itu adalah benar sebab pernyataan tersebut bersifat faktual atau sesuai dengan
fakta yang ada bahwa Matahari terbit dari timur dan tenggelam diufuk barat.
Ukuran dari teori ini bisa dikatakan benar apabila pernyataan sesuai dengan
kenyataan.
3. 3. Teori Kebenaran
Performatif
Teori ini
menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas
tertentu. Misalnya mengenai penetapan 1 syawal. Sebagian muslim di indonesia
mengikuti fatwa atau keputusan MUI. Sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa
ulama tertentu atau organisasi tertentu. Dalam fase hidupnya, manusia kadang
kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yang menjadi
rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, dan pemimpin
masyarakat. Kebenaran performatif dapat membawa kehidupan sosial yang rukun,
kehidupan beragama yang tertib, adat yang stabil dan sebagainya.
Kebenaran
Performatif yaitu sesuatu dikatakan benar apabila memang dapat diaktualkan
dalam tindakan. Apa bila sesuatu yang tidak mungkin dapat dikerjakan, maka
teori performatif menyatakan hal yang tidak benar (salah). Misalnya:
Menyediakan komputer untuk proses pembelajaran di Daerah yang tidak tersedia
tenaga listrik. Hal ini tidak benar (salah) karena komputer tersebut tidak
dapat dioperasikan.
4. 4. Teori Kebenaran
Pragmatik
Teori pragmatic dicetuskan oleh
filsuf pragmatis dari Amerika Serikat Charles S. Peirce dalam sebuah makalah
yang terbit pada tahun 1878 yang berjudul “How to Make our Ideals Clear”. Teori
ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah
berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan
filsafat Amerika. Ahli-ahli filsafat ini di antaranya adalah William James
(1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Herbert Mead (1863-1931) dan C.I.
Lewis (Suriasumantri, 1984:57). Bagi kaum pragmatis kebenaran adalah sama artinya dengan kegunaan.
Ide, konsep, pengetahuan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna.
Ide yang benar adalah ide yang paling mampu memungkinkan seseorang (berdasarkan
ide itu) melakukan sesuatu secara paling berhasil dan tepat guna. Berhasil dan
berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide itu benar atau
tidak. Bagi kaum pragmatis jika ide, pengetahuan atau konsep tidak ada manfaatnya
maka ide tersebut merupakan ide yang tidak benar.
Teori
pragmatisme (the pragmatic theory of truth) menganggap suatu
pernyataan, teori atau dalil itu memliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan
manfaat bagi kehidupan manusia. Salah satu contoh teori ini dalam matematika
adalah pada trigonometri pengukuran sudut berguna untuk menentukan arah,
kemiringan bidang atau mendesain dan membuat suatu bangun ruang. Kaum pragmatis
menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility), dapat
dikerjakan (workability) dan akibat yang memuaskan (satisfactor
consequence). Oleh karena itu, tidak ada kebenaran yang mutlak/ tetap,
kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibatnya. Akibat/hasil yang memuaskan
bagi kaum pragmatis adalah : sesuai dengan keinginan dan tujuan, sesuai dengan
teruji dengan suatu eksperimen, ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk
tetap eksis (ada).
Misalnya,
seiring perkembangan zaman, teknologi pun semakin canggih. Para ilmuan
menemukan teknologi-teknologi baru untuk mempermudah pekerjaan manusia, telepon
genggam berupa smartphone contohnya. Penemuan dan pengaplikasian smartphone
tersebut dikatakan benar karena dapat berguna untuk mempermudahkan pekerjaan
manusia. Kebenaran pragmatis, sesuatu dikatakan benar jika pernyataan itu atau
konsekuensi dari pernyataan itu bersifat fungsional. Artinya: mempunyai
kegunaan praktis atau mendatangkan manfaat (utility) bagi kehidupan
manusia. Sebaliknya dikatakan salah jika pernyataan itu tidak mendatangkan
manfaat.
C.
Sifat Dan Kriteria Kebenaran
Ilmiah
Kebenaran ilmiah menurut konrad kebung paling
tidak memilik tiga yaitu: struktur kebenaran ilmiah bersifat rasional-logis,
isi empiris, dan sifat pragmatis.
1. 1. Struktur yang
rasional-logis
Kebenaran dapat
dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis
tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional maka semua orang yang
rasional (yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik). Dapat
memahami kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap
sebagai kebenaran universal.
2. 2. Isi empiris
Kebenaran
ilmiah perlu diuji kenyataannya yang ada. Bahkan sebagian besar pengetahuan dan
kebenaran ilmiah. Berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini.
3. 3. Isi pragmatisme
(dapat diterapkan).
Sifat ini berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya jika suatu pernyataan “benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia, berguna berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya. Artinya kebenaran berkaitan erat dengan kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan, dan nilai kebenaran itu sendiri.
D.
Kebenaran Ilmiah Ditinjau Dari
Aspek Subjektif Dan Objektif
Subjektivitas
dan Objektivitas Merupakan dua hal yang berkaitan dengan apa-apa yang ada di
dalam atau diluar fikiran manusia. Subjektivitas mrupakan bukti atau fakta yang
ada dalam fikiran manusia sebagai persepsi, keyakinan juga perasaan. Sedangkan
Objektivitas merupakan sesuatu yang bisa diukur yang ada di luar dan persepsi
manusia. Kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya
pengetahuan itu, artinya bagaimana relasi antara subjek dan objek, manakah yang
lebih dominan untuk membangun pengetahuan itu. Jika subjek yang lebih berperan,
maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran yang sifatnya subjektif,
artinya nilai kebenaran dari pengetahuan yang dikandungannya itu amat
tergantung pada subjek yang memiliki pengetahuan itu. Atau, jika; jika objek
amat berperan, maka sifatnya objektif, seperti pengetahuan tentang alam atau
ilmu-ilmu alam.
Ilmu merupakan
bagian dari ilmu pengetahuan, tidak bebas dari nilai kebenaran, kegunaan dan
manfaatnya sesuai dengan visi dan orientasinya, cepat atau lambat ilmu akan
menyentuh nilai kemanusiaan melalui obyeknya, maka aktualisasi dan aplikasi
filsafat ilmu mutlak dibutuhkan dalam upaya mencari dan menentukan arti dan
makna kebenaran ilmiah. Misalnya, dalam islam dinyatakan bahwa diutusnya
Muhammad Rasulullah semata-mata menyempurnakan akhlak mulia, begitu juga limu
yang bersumber dari manusia menurut watak alami/fithrahnya, sarat dengan
nilai-nilai moral. Disinilah letak kebenaran yang bersifat koherensif dan
idealis. Dengan demikian ilmu dalam aliran ini harus yang berorientasi pada
nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana pandangan Phenomenologi.Kebenaran dalam
aliran Positivisme dan Utilitarianisme terwujud jika ilmu memberi justifikasi
terhadap setiap produk ilmu dari lembaga yang berwenang dan tidak
terikat/terlepas dari nilai moral.
Kebenaran disini adalah kebenaran korespondensif dan pragmatis sebagai ciri dari positivisme dan utilitarianisme yang bersifat obyektif dan faktual. Dalam tahap ini kebenaran ilmiah dalam aliran ilmu ini apabila bersifat konkrit,akurat,abstrak, dan manfaat yang mengantarkan manusia menuju dan meraih kemajuan dalamidupnya. Akibatnya, segala hal yang bersifat inmateriil seperti moral bahkan agama, tidak menjadi landasan kebenaran dan kemanfaatan. Disinilah urgensi filsafat ilmu mutlak diperlukan sebagai landasan agar tidak mengarah pada hedonistik yang merusak tatanan hidup dan nilai kemanusiaan. Kebenaran ilmiah dalam ilmu mempunyai arti dan makna bahwa ilmu banyak dipengaruhi dan ditentukan oleh policy penguasa, untuk itu seharusnya policy penguasa mampu melindungi semua kepentingan masyarakat dan berusaha memuaskan atau menserasikan konflik kepentingan yang tumpang tindih sehingga terjamin kehidupan manusia dan kehadiran ilmu menjadi sebuah kedamaian.
E.
Peran Dan Fungsi Filsafat Ilmu
Dalam Mencari Arti Dan Makna Kebenaran Ilmiah
Filsafat ilmu sebagaimana dijelaskan dimuka adalah sebagai refleksi
yang tidak pernah mengalami titik henti dalam meneliti hakekat ilmu untuk
menuju pada sasarannya, yaitu apa yang disebut sebagai kenyataan atau
kebenaran. Sasaran yang tidak pernah akan habis dipikir dan tidak akan pernah
selesai diterangkan, sedemikian rupa sehingga menjadi sangat penting
kehadirannya dalam mencari kenyataan dan kebenaran dalam ilmu, dan itu memang
tugasnya. Ilmu merupakan bagian dari ilmu pengetahuan, tidak bebas dari nilai
kebenaran, kegunaan dan manfaatnya sesuai dengan visi dan orientasinya, cepat
atau lambat ilmu akan menyentuh nilai kemanusiaan melalui objeknya, maka
aktualisasi dan aplikasi filsafat ilmu mutlak dibutuhkan dalam upaya mencari
dan menentukan arti dan makna kebenaran ilmiah. Misalnya, dalam islam
dinyatakan bahwa diutusnya Muhammad Rasulullah semata-mata menyempurnakan
akhlak mulia, begitu juga ilmu yang bersumber dari manusia menurut watak alami
atau fithrahnya, sarat dengan nilai-nilai moral. Disinilah letak kebenaran yang
bersifat koherensif dan idealis. Dengan demikian, ilmu dalam aliran ini harus
yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana pandangan
Phenomenologi. Kebenaran dalam aliran Positivisme dan Utilitarianisme terwujud
jika ilmu memberi justifikasi terhadap setiap produk ilmu dari lembaga yang
berwenang dan tidak terikat/terlepas dari nilai moral. Kebenaran disini adalah
kebenaran korespondensif dan pragmatis sebagai ciri dari positivisme dan
utilitarianisme yang bersifat obyektif dan faktual. Dalam tahap ini kebenaran
ilmiah dalam aliran ilmu ini apabila bersifat konkrit, akurat, abstrak, dan
manfaat yang mengantarkan manusia menuju dan meraih kemajuan dalam hidupnya.
Akibatnya, segala hal yang bersifat inmateriil seperti moral bahkan
agama, tidak menjadi landasan kebenaran dan kemanfaatan. Disinilah urgensi
filsafat ilmu mutlak diperlukan sebagai landasan agar tidak mengarah pada
hedonistik yang merusak tatanan hidup dan nilai kemanusiaan. Kebenaran ilmiah
dalam ilmu mempunyai arti dan makna bahwa ilmu banyak dipengaruhi dan
ditentukan oleh policy penguasa, untuk itu seharusnya polisi penguasa mampu melindungi semua kepentingan masyarakat dan berusaha
memuaskan atau menserasikan konflik kepentingan yang tumpang tindih sehingga terjamin
kehidupan manusia dan kehadiran ilmu menjadi sebuah kedamaian.

Comments
Post a Comment